November 24, 2010

Tegar

23 Maret 2005, bayi mungil terlahir dalam keadaan prematur. Sang Ibu terlihat letih setelah berjuang pagi itu. Namun, senyumnya segera merekah melihat buah hatinya lahir dengan selamat. Sang Bapak – ayahku – pun tak kalah bahagianya dengan ibuku. Ya, itu adalah adikku. Adik yang beberapa bulan ini membuatku tidak tenang menanti kelahirannya. Sepulang sekolah, aku dan kakakku, Anis, yang memang satu sekolah, pulang bersama. Sesampainya di rumah, terlihat ayahku seperti menanti kedatangan seseorang. “Nah, akhirnya pulang juga! Nis, Jib, ikut nggak liat adik bayi?”, tanya Ayah yang tampak lega karena yang ia tunggu-tunggu sudah datang. Kami berdua yang masih memarkir sepeda kami, terdiam mematung. Bingung, kaget, bahagia, semua bercampur jadi satu. Menerka siapakah bayi yang dimaksud. “Memangnya bayinya siapa , Yah?”, tanyaku penasaran. “Sudah, kalian cepat ganti baju sana, kita langsung berangkat”. Aku dan kakakku segera masuk ke dalam rumah dan bergegas ganti baju. Perkataan ayahku tadi membuatku penasaran tentang bayi itu. Setelah semua siap, Ayah mengunci pintu dan pagar rumah, dan kami pun berangkat mengendarai ‘gerobak’ –begitulah Ayah biasanya menyebut mobil tua milik keluarga kami. Di perjalanan, Aku makin penasaran dan mencoba menerka siapa bayi yang Ayah maksud. Mungkinkah Ibu sudah melahirkan? Ah, tidak mungkin, usia kandungan Ibu kan baru tujuh bulan? Tapi, mungkinkah Ayah begitu bersemangat mengajak kami bila ‘hanya’ temannya yang melahirkan? Sungguh membingungkan. Entah karena kelelahan atau apa, aku tertidur di dalam mobil. Perlahan mobil kami menepi dan memasuki halaman sebuah rumah sakit. Aku terbangun dan melihat sekeliling. Aku mulai mengenali tempat ini. Ya, ini adalah rumah sakit tempat ibu biasanya cek kehamilan tiap bulan. Aku menahan semua pikiranku, apa benar Ibu sudah melahirkan? Atau teman Ayah ada yang melahirkan di rumah sakit ini? Berbagai pertanyaan muncul di benakku, namun Aku tak berani menduga, hanya menunggu, menunggu semua menjadi cukup jelas. Lorong-lorong rumah sakit itu rasanya panjang sekali dan tak berujung. Entah mengapa, Aku merasa gelisah, tidak nyaman, atau apalah namanya, yang pasti baru kali ini Aku merasa begitu galau memasuki sebuah rumah sakit. Kami bertiga, sejak turun dari mobil belum ada yang berbicara sepatah kata pun. Ayah, sepertinya ingin membuat kami penasaran dengan diam seribu bahasa tanpa memberikan petunjuk mengenai bayi yang Ayah katakan di rumah tadi.
Namun, sepertinya kakakku tidak terpengaruh dengan sikap Ayah. Terlihat dari raut mukanya, Ia masuh mengantuk, ditambah lagi dengan beban pikiran tentang ujian dan ujian yang memang harus dijalani seorang siswa kelas 9 SMP. Sepertinya tak ada tempat di kepalanya memikirkan tentang bayi, masalah remeh ini. Kami melewati lorong-lorong, menaiki tangga, belokan-belokan, hingga sampai pada suatu ruangan. Tampak di depannya seorang perempuan tua duduk sendirian. Perlahan Aku mulai mengenali wajahnya. “Nenek! Nenek apa kabar? Kapan Nenek datang dari Madiun? Kenapa nggak bilang dulu? Kan bisa dijemput?”, seruku sambil memeluknya erat-erat. Aku langsung menutup mulut begitu sadar telah mengganggu pasien lain dengan suaraku barusan. Nenek tersenyum. Sebuah senyuman yang meneduhkan, membuatku tenang dan melupakan semua kegalauan hatiku. Sebuah senyum yang kurindukan, yang sudah lama tak kulihat. Terakhir kali aku bertemu Nenek sekitar dua tahun lalu saat pernikahan tanteku. Ayah yang dari tadi diam membiarkan anaknya melepas rindu kepada neneknya ikut tersenyum. “Ya sudah, ayo Nis, Jib, katanya mau liat adik bayi?”, kata Ayah sambil membuka pintu ruangan tadi. Sebuah ruangan 5x6 meter dengan tinggi sekitar 4 meter, tembok dan lantai putih, satu ranjang, dan sebuah wastafel. Ruangan yang membosankan, pikirku. Tampak Ibuku tidur di atas ranjang. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Perut Ibu tidak besar seperti kemarin. Apa yang sebenarnya terjadi? “Lho Buk, perutnya Ibuk kok udah kemps? Adik bayinya mana?”, tanyaku penuh selidik. Tanpa menunggu jawaban, langsung kulempar pandangan ke seluruh ruangan, kupikir akan ada sebuah keranjang bayi dari kayu di pojok ruangan yang di dalamnya terdapat bayi mungil yang lucu. Tapi, dimana keranjang bayi itu? Di ruangan ini hanya ada warna putih dan putih. “Adik dimana, Buk?”, tanyaku lagi. Ibu tersenyum sambil melihat Ayah, mengisyaratkan sesuatu. Ayah pun langsung paham maksud Ibu. Ayah mengajakku ke ruangan sebelah. Kakakku masih di ruangan Ibu, ingin menemani Ibu mungkin. Di ruangan sebelah kulihat ada tiga keranjang bayi, dan tentunya semua berwarna putih. Aku mulai bosan dengan warna itu. Ku lihat keranjang – keranjang bayi itu sekali lagi, ada yang aneh. Keranjang bayi itu berbentuk balok dari kaca dengan bingkai kayu dan empat kaki dari kayu yang tinggi, di dalamnya terdapat bayi dan empat bohlam yang menyala terang. Dan yang paling aneh, keranjang bayi itu mempunyai penutup! Lebih mirip tempat makanan di restoran. Masakan Padang, pikirku. “Ya, adik yang mana? Terus, kenapa kok ada lampunya dan ditutup?”, tanyaku ingin tahu. Kami tak bisa masuk karena di ruangan itu dibatasi hanya tiga orang yang boleh masuk, sedangkan sekarang masih ada dua orang yang tak ku kenali di ruangan itu. “Itu yang di tengah namanya inkubator, nak. Adik lahirnya prematur, jadi kalau nggak dimasukkan ke inkubator, bisa kedinginan”, jawab ayahku. “Oooo..”, mulutku membentuk lingkaran tanda mengerti. Tak terasa langit sudah gelap. Setelah sholat Maghrib, ayah mengantar aku dan kakakku pulang karena besok harus sekolah. Nenek juga ikut, dalam perjalanan ke rumah, tidak ada obrolan yang terjadi karena semua sudah terlelap, kecuali ayah yang harus menyetir mobil. Setelah sampai rumah, kami menurunkan barang bawaan nenek. Ayah hanya turun sebentar untuk makan dan mengambil laptop lalu segera kembali ke rumah sakit. Mungkin ayah ingin mengerjakan tugas kantor di rumah sakit. Aku kasihan pada ayah. Beberapa hari ini ayah harus bolak – balik dari rumah ke rumah sakit sehingga kurang istirahat. Mungkin ayah seperti Napoleon Bonaparte, panglima perang Perancis yang hanya tidur empat jam dalam sehari. Namun, di samping itu aku juga kagum, kagum sekali pada ayah. Ayah adalah ayah teladan sekaligus pekerja yang professional. Satu minggu kemudian, ibu sudah boleh pulang, tapi adik masih harus masuk incubator beberapa hari lagi. Karena sudah satu minggu, tentunya kami sekeluarga sudah menyiapkan nama untuk adik. Sebuah nama yang tangguh : Tegar Aji Pamungkas. Tegar, agar adikku tumbuh menjadi orang yang tegar dan kuat, mengingat ia lahir premature. Pamungkas, karena adikku ini, kata ibu, mungkin adalah anak terakhirnya alias penutup. Ibu bisa hamil adik Tegar ini saja sudah merupakan mukjizat, mengingat umur ibu yang sudah tidak muda lagi. Sedangkan Aji, mungkin hanya sebagai penyelaras agar namanya enak untuk diucapkan dan didengar. Bagaimanapun juga, aku bersyukur atas semua yang telah terjadi. Terima kasih, Ya Allah telah Engkau berikan anggota baru dalam keluarga kami. Terima kasih ibu, ayah. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlahirnya adik yang telah dinanti – nanti. Aku berjanji akan menyayangi dan melindunginya. Janji seorang kakak lelaki. Janji memberikan perlindungan kepada karunia Tuhan, seorang bayi laki – laki. Naguib Mahfoudz

No comments:

Post a Comment

Post a Comment


CursorsFree Cursors